LAPORAN MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI
LAPORAN
MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
“PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI”
DISUSUN:
NAMA : ZUZI NOPRIANNI
NPM :
F0I020097
KELAS : 1 A
DOSEN PENGAMPUH : SUCI RAHMAWATI, S.Farm,Apt,M.Farm
LABORATORIUM
MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
PRODI
D3 FARMASI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
BENGKULU
TAHUN
AKADEMIK 2020/2021
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI
- TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan biotik dan abiotik terhadap
pertumbuhan mikroba.
- LANDASAN TEORI
Pertumbuhan adalah penambahan
secara teratur semua komponen sel atau jasad. Pembelahan sel adalah hasil
pertumbuhan sel pada jasad bersel tunggal, pembelahan sel merupakan pertumbuhan
jumlah individu. Misalnya pembelahan sel pada bakteri akan menghasilkan
pertumbuhan jumlah sel itu sendiri, pada jasad bersel banyak atau
multiseluller, pembelahan sel tidak menghasilkan pertumbuhan julah individu
tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya.
Dalam membahas pertumbuhan mikroba harus dibedakan antara pertumbuhan
masing-masing individu sel dan pertumbuhan kelompok sel atau pertumbuhan
populasi. Pertumbuhan bakteri umumnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan
pangaruh faktor ini akan memberikan gambara pula terhadap kurva pertumbuhannya
(Darkuni, 2011)
Kebutuhan mikroorganisme untuk
pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu kebutuhan fisik dan
kebutuhan kimiawi. Aspek-aspek fisik dapat mencakup suhu, pH, dan tekanan osmotik.
Sedangkan kebutuhan kimiawi meliputi air, sumber karbon, nitrogen, oksigen,
mineral-mineral, dan faktor penumbuh. Kondisi lingkungan juga dapat memicu
pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan reproduksinya yaitu suhu, kelembaban, dan cahaya (Jeneng,
2010).
Perubahan faktor lingkungan dapat
mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan,
mikroba selain menyediakan nutrien yang sesuai untuk aktifitasnya, juga
memerlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya. Mikroba
tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan
respon yang berbeda-beda. Untuk hasil kultivasinya, berbagai tipe mikroba,
diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai
(Pelczar dan Chan, 2007).
Salah satu faktor lingkungan yang
berpengaruh adalah suhu atau temperatur. Mikrobia memiliki batas toleransi
masing-masing terhadap suhu. Efek dari suhu yang ekstrim pada mikrobia adalah
enzim menjadi inaktif dan kemungkinan hal yang sama terjadi pada beberapa
struktur sel lainnya. Tetapi pada kondisi optimumnya mikrobia akan memiliki
produktivitas yang optimal. Ada 3 jenis mikrobia berdasarkan kisaran suhunya
yaitu psikofilik dengan suhu minimum 5-0°C dan maksimum 15-20°C, mikrobia mesofilik
dengan suhu minimum 10-20°C, optimum 20-40°C, maksimum 40-45°C dn mikrobia
termofilik dengan suhu minimum 25-45°C, optimum 45-60°C, maksimum 60-50°C
(Moat, 2010).
Kehidupan bakteri tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan tetapi juga mempengaruhi keadaan
lingkungan. Bakteri dapat menyebabkan pH dari medium tempat ia hidup, perubahan
ini disebut perubahan secara kimia. Adapun factor-faktor lingkungan dapat
dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor abiotik. Dimana faktor biotik
terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yang mencakup adanya asosiasi atau
kehidupan bersama antara mikroorganisme dapat dalam bentuk simbiose,
sinergisme, antibiose dan sitropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas
faktor fisikal (misal : suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban,
sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa
toksik atau senyawa kimia lain) (Hadioetomo, 2001).
Mikroba termasuk ke dalam kelompok
jasad hidup yang sangat peka terhadap adanya perubahan pada lingkungannya,
sehingga dengan adanya perubahan yang kecil di dalam temperatur atau cahaya
misalnya akan cepat mempengaruhi kehidupan dan aktivitasnya. Tetapi mikroba
juga termasuk kelompok jasad hidup yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri
dengan adanya perubahan lingkungan (Suryawiria, 1996).
Pertumbuhan adalah penambahan
secara teratur semua komponen sel suatu jasad. Pembelahan sel adalah hasil dari
pertumbuhan sel. Pada jasad bersel tunggal (uniseluler), pembelahan atau
perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Misalnya pembelahan sel
pada bakteri akan menghasilkan pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada
jasad bersel banyak (multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan
pertambahan jumlah individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan
atau bertambah besar jasadnya. Dalam membahas pertumbuhan mikrobiaharus
dibedakan antara pertumbuhan masing-masing individu sel dan pertumbuhan
kelompok sel atau pertumbuhan populasi (Suharjono, 2006).
Menurut Darkuni (2001) pertumbuhan
bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor
ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang
berbedadan pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva
pertumbuhannya.Kebanyakan mikroba dapat tumbuh pada kisaran sebesar pH 3 –4
unit pH atau kisaran 1000 –10000 kali konsentrasi ion hydrogen. Kebanyakan
bakteri mempunyai pH optimum sekisar pH 6 –7.5, Khamir mempunyai pH 4-5 dan
tumbuh pada kisaran pH 2.5 –8 dan kapang mempunyai pH optimum antara 5 dan 7
dan dapat tumbuh pada kisaran pH 3 –8.5. Dalam fermentasi, control pH penting
sekali dilakukan karena pH yang optimum harus tetap dipertahankan (Ninis dan
Mohammad, 2009).
Selain untuk menyediakan nutrien
yang sesuai dengan kultivitas, mikroba juga perlu disediakan kondisi fisik yang
memungkinkan pertumbuhan optimum mikroba khususnya bakteri yang sangat
bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon yang
berbeda-beda terhadap kondisi fisik di dalam lingkungannya. Untuk berhasilnya
kultivitas berbagai variasi mikroorganisme, dibutuhkan suatu kombinasi nutrien
serta lingkungan fisik yang sesuai.
Selain itu suhu juga mempengaruhi
laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman suhu dapat
juga mempengaruhi atau merubah proses metabolik tertentu serta morfologi sel.
Suhu inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tersepat selama periode waktu yang
singkat (12 sampai 24 jam) yang dikenal sebagai suhu pertumbuhan yang optimum.
PH optimum pertumbuhan kebanyakan bakteri terletak 6,5 sampai 7,5. Namun,
beberapa yang dapat tumbuh dalam keadaan yang sangat masam atau yang sangat
alkalin. Kebanyakan yang mempunyai nilai PH minimum dan maksimum ialah 4 dan 9
(Pelczar, dkk., 1986)
Bakteri adalah mikroorganisme
uniseluler prokariotik (inti selnya tidak memiliki membran/selaput inti) yang
mempunyai dinding sel seperti tumbuhan, namun umumnya tidak berklorofil.
Bakteri bersifat kosmopolitan, karena merupakan makhluk hidup yang paling banyak jumlahnya dan tersebar luas
hampir di semua tempat seperti di makanan, tanah, air, udara, dalam tubuh
makhluk hidup dan bahkan di tempat yang sangat ekstrim seperti di dalam magma
(Utomo, 2011).
Pertumbuhan mikroba pada umumnya
sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor
lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini
dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk
kultivasinya, juga diperlukanfaktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan
mikroba secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan
nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang
berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan
suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar &
Chan, 1986).
Kemampuan mikroorganisme untuk
tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam ekosistem pangan. Suatu
pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan
tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara
mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan
tersedianya oksigen(Buckle, 1985).
Karena semua proses pertumbuhan
bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi
oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh
temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan
organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik
tertentu serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).
Medium harus mempunyai pH yang
tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh
dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae).
Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8.
Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang
sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai
organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme
dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentu merupakan
pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang
bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993).
- ALAT
DAN BAHAN
·
Alat :
1. Pembakar Bunsen
2. Koin
3. Erlemeyer
4. Kassa Steril
5. Tabung Reaksi
6. Gelas Beacker
7. Autoclave
8. Timbangan
9. Hotplate
10. Koran
·
Bahan :
1. Nutrient Agar (NA)
2. Nutrient Borth (NB)
3. Aquadest
- PROSEDUR
KERJA
1. Sterilisasi semua alat yang akan digunakan
2. Buatlah larutan NB dengan menimbang NB sebanyak 800
Mg
3. Masukkan NB sebanyak 800 Mg kedalam erlemeyer
tambahkan aquadest sebanyak 100 ml (larutan NB)
4. Cairkan NA dan larutan NB sampai mendidih
5. Sterilkan tempat dan tangan
6. Tuangkan NA kedalam 5 cawan petri dan tunggu sampai
mengeras
7. Masing masing cawan petri diberi label
8. Letakkan koin pada cawan yang berlabel logam tidak
dibakar, tunggu bebebrapa saat lalu ambil logam tersebut
9. Bakar koin dan letakkan pada cawan yang berlabel logam
dibakar,tunggu beberapa saat lalu ambil logam tersebut
10. Tuangkan larutan NB kedalam 3 tabung reaksi
11. Ambil kassa steril dan basahi dengan larutan NB,
lalu usapkan pada tangan tidak dicuci
12. Letakkan sampel pada cawan yang berlabel tangan
tidak dicuci
13. Semprot tangan dengan disenfektan
14. Basahi kassa steril dengan NB usapkan pada tangan
yang disemprotkan disenfektan tadi.
15. Letakkan sampel pada cawan berlabel tangan disemprot
disenfektan
16. Cuci tangan dengan sabun
17. Basahi kassa steril dengan NB usapkan pada tangan yang
dicuci dengan sabun
18. Letakkan sampel pada cawan berlabel tangan dicuci
dengan sabun
19. Letakkan 5 sampel tadi kedalam inkubator dalam
keadaan cawan terbalik
20. Lihat hasil selama 1 x 24 jam
- HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
|
NO. |
GAMBAR |
KETERANGAN |
|
1. |
Logam yang tidak dibakar |
Terbentuk
bakteri yang sangat banyak karena logam dalam kondisi tidak steril. |
|
2. |
Logam yang dibakar |
Terbentuk
bakteri tetapi sangat sedikit sekali karena logam sudah dibakar yang
menandakan logam dalam kondisi steril. |
|
3. |
Tangan yang tidak dicuci |
Terbentuk
bakteri yang banyak karena kondisi tangan dalam keadaan tidak steril. |
|
4. |
Tangan yang disemprotkan disenfektan |
Bakteri
yang dihasilkan ada tetapi hanya sedikit karena tangan dalam kondisi steril. |
|
5. |
Tangan yang dicuci |
Bakteri
yang terbentuk sedikit karena tangan sudah dicuci sehingga tangan dalam
kondisi steril. |
B.
Pembahasan
Faktor lingkungan sangat
mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas mikrobia. Perubahan faktor lingkungan
dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikrobia. Mikrobia
yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mempunyai sifat sangat
resisten dengan lingkungan baru. Aktifitas mikroba dapat dikendalikan dengan
mengatur faktor lingkunga tempat hidupnya. Faktor lingkungan tersebut meliputi
faktor biotik (adanya asosiasi atau kehidupan bersama antar mikrobia). Faktor
abiotik (suhu, kelembaban, pH, tekanan osmosa, sinar gelombang pendek, daya
oigodinamik).
Pertumbuhan merupakan suatu proses
kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik kejadiannya.
Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan
struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan
jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter
lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan
jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba. Pertumbuhan mikroba dalam
suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut disebut
dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian.
Pada fase kematian eksponensial
tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila
kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi.
Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu.
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang
berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan
fase kematian.
Pada fase kematian eksponensial
tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila
kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau
radiasi.Setiap spesies mikroba memiliki aktivitas yang berbeda-beda dalam
melakukan pertumbuhan. Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel
atau semakin banyaknya organisme yang terbentuk.
Mikroba akan semakin cepat
pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang disukai oleh mikroba.
Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisiko-kimia,
seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas
media, kontaminan dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor. Dalam proses
pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang cukup serta
kondisi lingkungan yang mendukung demi berlangsungnya proses pertumbuhan
tersebut, termasuk juga bakteri.
Pertumbuhan bakteri pada umumnya
akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Temperatur merupakan salah satu faktor
yang penting di dalam kehidupan. Beberapa jenis mikroba dapat hidup di daerah
temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. Pada
umumnya batas daerah tempetur bagi kehidupan mikroba terletak di antara 0°C dan
90°C, sehingga untuk masing -masing mikroba dikenal nilai temperatur minimum,
optimum danmaksimum.
Temperatur minimum suatu jenis
mikroba ialah nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba masih berlangsung.
Temperatur optimum adalah nilai yang paling sesuai /baik untuk kehidupan
mikroba. Temperatur maksimum adalah nilai tertinggi yang masih dapat digunakan
untuk aktivitas mikroba tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling
minimal.Daya tahan mikroba terhadap temperatur tidak sama untuk tiap-tiap
spesies. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit didalam
mediumpada temperature 60°C; sebaliknya bakteri yang membentuk spora seperti
genus Bacillus dan genus Clostridium tetap hidup setelah dipanasi dengan uap
100°C atau lebih selama 30 menit.
Oleh karena itu, proses sterilisasi
untuk membunuh setiap spesies bakteriyakni dengan pemanasan selama 15-20 menit
dengan tekanan 1 atm dan temperatur 121°C di dalam autoklaf.Bakteri memiliki
batasan suhu tertentu dia bisa tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri
berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu lingkungannya:
1. Mikroorganisme psikrofilik yaitu mikroorganisme yang
suka hidup pada suhu yang dingin, dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum
dibawah 20°C. Kebanyakan golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin, baik di
daratan maupun di lauatan.
2. Mikroorganisme mesofilik, yaitu mikroorganisme yang
dapat hidup secara maksimal pada suhu yang sedang, mempunyai suhu optimum di
antara 20°C sampai 50°C.
3. Mikroorganisme termofilik, yaitu mikroorganisme yang
tumbuh optimal atau suka pada suhu yang tinggi, mikroorganisme ini sering
tumbuh pada suhu diatas 40°C, bakteri jenis ini dapat hidup di tempat-tempat
yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat
ditemukan.
Percobaan kali ini bertujuan untuk
megetahui pengaruh lingkungan seperti suhu/temperatur, tekanan osmotik dan
radiasi UV terhadap pertumbuhan mikroba. Dan dari hasil percobaan yang telah
dilakukan, terlihat bahwa mikroba yang tumbuh akan sesuai dengan pH yang
diberikan. Pada tekanan osmotik, semakin besar kadar atau persentase NaCl yang
diberikan, akan semakin banyak pula bakteri tumbuh yang ditandai dengan semakin
keruhnya larutan. Sedangkan pada penyinaran UV, mikroba yang tumbuh akan
s.emakin sedikit dengan semakin banyaknya penyinaran UV yang dilakukan terhadap
mikroba tersebut.
- KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Faktor lingkungan yang mempengaruhi mikroorganisme
ada dua, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik.
2. Berdasarkan suhu pertumbuhannya bakteri dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu mesofil, psikrofil dan termofil.
B.
Saran
Dalam praktikum ini saran dari saya, kita harus
menjaga kebersihan agar hasil dari praktikum yang kita lakukan dapat
mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
·
Darkuni, M. N.
2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Universitas Negeri
Malang. Malang
·
Pelczar, M.J dan
E.C.S Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. UI –Press. Jakarta.
·
Puspitasari,
Ninis dan Sidik, Mohammad. 2009. “Pengaruh jenis Vitamin B dan Sumber Nitrogen
Dalam Peningkatan Kandungan Protein Kulit Ubi kayu Melalui Proses Fermentasi”.
Seminar Tugas Akhir S1 Teknik Kimia. UNDIP. Semarang.
·
Suharjono, 2006.
Komunitas Kapang Tanah di Lahan Kritis Berkapur DAS Brantas Pada Musim Kemarau.
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya. Malang.
·
Suriawiria, U.
1996. Mikrobiologi Air dan Dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis.
Penerbit Alumni. Bandung






Komentar
Posting Komentar