LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK UJI KARAKTERISTIK SENYAWA NITROGEN ( AMINA, AMIDA DAN NITRO)
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
“UJI KARAKTERISTIK SENYAWA NITROGEN ( AMINA,
AMIDA DAN NITRO)”
DISUSUN OLEH:
NAMA :
ZUZI
NOPRIANNI
NPM :
F0I020097
KELAS :
1A
DOSEN PENGAMPUH : SUCI
RAHMAWATI, S. Farm, Apt,.M.Farm
LABORATORIUM KIMIA ORGANIK
PRODI D3 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENEGNTAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
A.
TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Mempelajari
dan memperkenalkan salah satu metode identifikasi senyawa berdasarkan perbedaan
gugus fungsi.
2.
Memberi
pemahaman identifikasi secara kimia senyawa golongan amina, amida dan nitro.
B.
LANDASAN TEORI
Gugus fungsi adalah suatu atom atau
kumpulan atom yang melekat pada suatu senyawa dan berperan memberikan sifat
yang khas pada senyawa. Semua senyawa organik yang mempunyai gugus fungsional
yang sama akan ditempatkan pada
deret homolog yang
sama. Berdasarkan gugus
fungsi, dapat dibuat klasifikasi senyawa organik yang
memudahkan kimia organik untuk dipelajari (Akhmad, 2013).
Tes karakteristik senyawa kimia untuk
mendeteksi senyawa-senyawa ini jarang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan
penentuan gugus fungsional dengan menggunakan spektroskopi inframerah, analisis
unsur dan tes kelarutan. Tes reaksi yang
dapat dilakukan untuk menunjukkan adanya gugus fungsi tersebut salah satunya
adalah tes CuSO4 atau dikenal dengan tes biuret. Tes ini dipakai untuk
menunjukkan adanya amina yang larut dalam air dan mempunyai berat molekul
rendah (Anwar, 1994).
Metil amina merupakan senyawa organik
yang berupa gas tidak berwarna pada suhu ruang, senyawa ini diperoleh dari
hasil penggantian atom hidrogen dari amoniak dengan gugus lain (metil Secara
umum terdapat tiga jenis amina, yaitu primer, sekunder, dan tersier, yang
secara berurutan menunjukkan gugus metil yang terdapat pada senyawanya. Ketiga
tipe tersebut ialah CH3NH2
(MMA),(CH3)2NH (DMA) dan (CH3)3N (TMA) (Nasikin, 2010).
Penamaan senyawa amina sama dengan
alcohol, rangkaian terpanjang suatu alkil merupakan rantai utama. Akhiran –na
dalam alkana diganti dengan –amina, nomor amina menunjukkan letak dari gugus
aminanya. Awalan N- dipakai jika ada substituen yang terikat pada atom N. Nama
trivial suatu senyawa amina berasal dari gugus alkil yang terikat pada atom
nitrogen, diikuti akhiran amina, dengan awalan di, tri, dan tetra dipakai untuk
menunjukkan jumlah gugus alkilyang ada pada atom N (Riswiyanto, 2009).
Amida adalah turunan asam Karboksilat
yang paling tidak reaktif karena itu, golongan senyawa ini banyak terdapat
dialam. Amida yang terpenting adalah protein. Amida diberi nama dengan
mengganti akhiran asam at atau oat dengan akhiran amida.
Amida mempunyai geometri datar.
Sekalipun ikatan karbon-nitrogen biasanya ditulis sebagai ikatan tungggal,
rotasi pada ikatan ini sangat terbatas. Alasannya ialah karena adanya resonansi
yang sangat penting pada amida.
Penyumbang resonansi yang
mempunyai dua kutub
inilah yang menyebabkan ikatan
karbon-nitrogen bersifat lebih banyak sebagai ikatan ganda dua (Fessenden dan
Fessenden, 1982).
Amida primer adalah amida yang dua atom
hidrogennya terikat pada atom nitrogen amida.
Amida sekunder adalah
amida yang atom
nitrogennya tersubstitusi
sebuah gugul alkil/aril.
Amida tersier adalah
amida yang atom nitrogennya tersubstitusi dua gugus
alkil/aril. Amida primer, sekunder dan tersier dapat dibuat dari asam karboksilat
dengan mekanisme sebagaimana tercantum dalam Gambar (Ramadhan, 2012)
Gambar
Pembentukan amida
Proses nitrasi adalah masuknya gugus
nitro ke dalam zat-zat organik atau kimia lainnya dengan menggunakan campuran
asam nitrat dan asam sulfat. Proses nitrasi dibedakan menjadi 2 macam proses,
yaitu pembuatan senyawa nitro dan pembuatan ester nitrat dimana atom N
berikatan dengan atom O. Kegunaan asam sulfat dalam proses tersebut sebagai zat
penarik air (dalam reaksi nitrasi akanterbentuk air), sehingga reaksi dapat
berlangsung sempurna (Purnawan, 2010).
Nitrogen adalah sebuah unsur kimia dalam
table periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan
sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomonik
bukan logam stabil, sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan
zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsure
lainnya. Nitrogen adalah78,08% dari
atmosfir bumi dan dalam banyak jaringan hidup. Zat lemas terbentuk banyak senyawa penting seperti asam amino, amoniak,
asam nitrat dan sianida (Vogel, 1985).
Amina dapat dianggap sebagai turunan
dengan menganti satu, dua atau tiga hidrogen dari amonia dengan organik.
Seperti amonia, amina bersifat basa. Pada kenyataannya amonia adalah Jenis basa
organik penting diatom. Amina digolongkan menjadi amina primer, amina sekunder,
dan amina tersier, tergantung apakah satu, dua atau tiga gugus organik yang
melekat pada nitrogen. Gugus R pada struktur ini dapat berupa alkil dan aril
dan kedua gugus tersebut dapat berbeda atau satu sama lain. Sama halnya dengan
amonia, amonia membentuk larutan basa (alkali) dengan air. Amina juga dapat
bereaksi dengan asam kuat membentuk garam alkalamonium (Hart, 1983).
Senyawa amina merupakan salah satu agen
kimia yang banyak mempengaruhi karotenassi pada sejumlah system mikrobia. Beberapa
agen bahan kimia yang memiliki pengaruh termasuk terpen, ionone, alkaloid dan
antibiotik telah dipelajari untuk pengaruhnya pada sintesis karotenoid. Misalnya
pada penentuan kadar Nitrogen pada sintesis deproteinasi polimer kitin secara enzimatik
dari kulit rajungan. Banyaknya protein yang terdapat dalam kitin dapat dilihat
dari persen nitrogen. Dimana proses yang berlangsung pada tahap destruksi sampel
dioksidasi dengan panas dan pelarut H2SO4 pekat, karbon dan hidrogen diubah
menjadi CO2 dan H2O. Nitrogen pada amida dan amina diubah menjadi ion
ammonium (Hart, 1990).
Hasil sintesis bioisurfaktan ini tidak
menghasilkan ester sebab sifat kebasaan dan nukleofil dari NH2 lebih kuat dari
gugus OH dan jika alkohol amina primer yang direaksikan dengan asam karboksilat
memiliki n < 3 memiliki reaksifitas yang tinggi reaktifitas yang tinggi dan
migrasi dari gugus ester menjadi amida terjadi secara spontan lebih lanjut
mengemukakan bahwa reaksi antara asam lemak dan alkohol amina yang memiliki n
< 3 (Hendra, 2013).
Kitosan merupakan suatu senyawa poli (N-
amino- 2 deoksi β-D-glukopiranosa) atau glukosamin hasil deasetilasi kitin/poli
(N – asetil - 2 amino – 2 - deoksi βD glukopiranosa) yang diproduksi dalam
jumlah besar. Hasil isolasi kulit udang akan menghasilkan senyawa kitin yang
merupakan polimer dari glukosamin yaitu polisakarida yang mengandung gugus
asetat amida, sedangkan kitosan merupakan hasil proses hidrolisa kitin dengan
alkali sehingga terjadi proses deasetilasi dari gugus asetamida menjadi gugus
amina (Ramadhan dkk., 2010).
Amida adalah turunan asam karboksilat,
dimana gugus -OH diganti dengan -NH2 atau amoniak, dimana 1 H diganti dengan
asil. Sifat fisika dari amina berupa zat padat kecuali formamida yang berbentuk
cair, tak berwarna, suku - suku yang rendah larut dalam air, bereaksi kira - kira
netral. Struktur amida: R - CONH2. Amida diperoleh melalui reaksi asam karboksilat
dengan amoniak, garam amoniumamida dipanaskan dan Reaksi anhidrid asam dengan
amponiak. Dalam aplikasinya, amida banyak ditemukan sebagai Bormamida berbentuk
(air, sebagai pelarut, untuk identifikasi asam yang berbentuk cair serta
sintesis nilon (Riawan, 1990).
Turunan senyawa sinamida sebelumnya
telah diisolasi dan dilaporkan dari tumbuhan Clausena indica dan senyawa benzamida
telah diisolasi dari tumbuhan Buxus sempervirens. Senyawa amida dapat
disintesis menjadi beberapa turunan amida. Beberapa turunan amida yang telah
disintesis berguna untuk pengujian farmakologi sehingga dapat bermanfaat bagi
bidang kesehatan (Saidi, 2010).
Turunan senyawa alpha asam amino sebagai
amida maupun poliamida dengan berbagai asam lemak dapat dimanfaatkan sebagai
bahan antimikroba dan surfaktan. Beberapa peneliti terdahulu telah melakukan
amidasi langsung melalui pemanasan antara asam karbosilat dengan senyawa amin
yaitu reaksi antara asam azelat dengan urea menghasilkan senyawa amida yang
berguna sebagai surfaktan dan reaksi antara dodekilamania dengan asam β-hidroksi
pelargonat yang merupakan turunan asam azelat menghasilkan dodekil β-hidroksi
pelargonamida yang berguna sebagai zat anti penuaan dan anti keriput dalam
industri kosmetika (Kaban, 2005).
Senyawa nitro mengandung satu atau lebih
kelompok nitro (NO2) adalah kelas senyawa organik RNO2 senyawa rumus (dimana R
adalah gugus hidrokarbon alifatik atau gugus hidrokarbon). Senyawa nitro dapat
dilihat sebagai molekul hidroksil satu atau lebih atom hidrogen adalah kelompok
nitro (-NO2) derivatif diganti dihasilkan oleh kelompok hidroksil dapat dibagi
menjadi senyawa nitro alifatik (R-NO2) dan aromatik keluarga nitro senyawa (Ar-NO2),
dibandingkan dengan senyawa nitro alifatik, senyawa nitro aromatik digunakan
secara luas (Oxtoby, 2001).
C.
ALAT DAN BAHAN
·
ALAT
1)
Bunsen
2)
Kaki
tiga
3)
6
buah tabung reaksi
4)
Beacker
glass
5)
Gelas
ukur (5 ml)
6)
Spatel
7)
Pipet
tetes
·
BAHAN
1)
Urea
2)
Kapur
barus
3)
Kertas
lakmus / kertas pH
4)
H2SO4
5)
NaOH
6)
NaNO3
7)
Aquadest
D.
PROSEDUR KERJA
1.
Langkah
kerja 1
1)
Masukkan
urea (1 ml) kedalam gelas ukur
2)
Masukkan
aquadest ( 5 ml) kedalam gelas ukur
3)
Campurkan
aquadest dengan urea
4)
Lalu
aduk campuran aquadest dan urea
5)
Lalu
amati reaksinya
2.
Langkah
kerja 2
1)
Masukkan
urea ( 1 ml ) kedalam gelas ukur
2)
Pindahkan
urea ( 1 ml ) kedalam tabung reaksi
3)
Tambahkan
NaOH setetes demi setetes hingga terjadi reaksi
4)
Lalu
aduk
5)
Amati
reaksinya
6)
Lakukan
uji pH untuk mengetahui pH larutan tersebut ( asam / basa)
3.
Langkah
kerja 3
1)
Masukkan
urea ( 1 ml ) kedalam gelas ukur
2)
Pindahkan
urea ( 1 ml ) kedalam rabung reaksi
3)
Tambahkan
H2SO4 setetes demi setetes hingga terjadi reaksi
4)
Lalu
aduk
5)
Panaskan
diatas hot plate, sampai ber-uap
6)
Angkat,
uji bau pada larutan
7)
Lakukan
uji pH untuk mengetahui pH larutan tersebut (asam/basa)
4.
Langkah
kerja 4
1)
Masukkan
urea ( 1 ml ) kedalam gelas ukur
2)
Pindahkan
urea ( 1 ml ) ke dalam tabung reaksi
3)
Tambahkan
NaOH ( 4 ml ) tunggu selama 2 menit
4)
Tambahkan
1 ml NaNO3
5)
Tambahkan
H2SO4 1 ml
6)
Lalu
aduk
7)
Amati
reaksi yang terjadi
5.
Langkah
kerja 5
1)
Ukur
kapur barus sebanyak 1 ml
2)
Ukur
aquadest ( 5 ml )
3)
Masukkan
ke dua larutan tersebut ke dalam tabung reaksi
4)
Lalu
aduk
5)
Amati
reaksinya
6.
Langkah
kerja 6
1)
Ukur
kapur barus 1 ml
2)
Masukkan
kedalam tabung reaksi
3)
Tambahkan
NaOH tetes demi tetes
4)
Amati
reaksi yang terjadi
E.
HASIL DAN PEMBAHASAN
·
HASIL
1.
Urea
+ aquadest → larut
2.
Urea
+ NaOH → larut, pH = 13 (basa)
3.
Urea
+ H2SO4 + dipanaskan →
tidak berbau, pH = 5 (asam)
4.
Urea
+ NaOH + NaNO3 + H2SO4→ terdapat endapan
5.
Kapur
barus + aquadest → larut
6.
Kapur
barus + NaOH → larut
·
PEMBAHASAN
Kelompok
senyawa organik yang cukup banyak jenisnya adalah senyawa-senyawa nitrogen,
antara lain amina, amida dan nitro. Perbedaan gugus fungsi dari golongan tersebut
memberikan respon berbeda
terhadap tes kimia
tertentu. Keberadaan senyawa yang memiliki gugus fungsi amina dapat
diidentifikasi dengan uji CuSO4
dan Heisenberg, amida
dengan uji kelarutan
dalam air, hidrolisis dengan
alkali dan hidrilisis dengan asam. Selanjutnya keberadaan gugus nitro dapat
diketahui dengan tes merah putih biru.
Amina
adalah senyawa organik yang mengandung nitrogen dengan pasangan electron bebas.
Amina merupakan turunan dari ammonia yang mana satu ataulebih hidrogennya telah
tergantikan oleh kelompok alkil banyak senyawa-senyawayang sangat penting
adalah asam amino, anilin dan tritanolamin zat ini merupakan senyawa terpenting
dalam kimia organik yang reagen dari amoniak dan berturut-turut menghasilkan
amina primer, sekunder, dan tersier. Untuk amina tidaklah mempunyai arti bangun
yang sama seperti untuk alkohol.
Amida
merupakan senyawa-senyawa organik dengan gugus asil (R-C=O) yang terhubung
dengan nitrogen. Termasuk turunan asam karboksilat yang paling tidak reaktif.
Amida juga sering
digunakan sebagai senyawa
turunan dari ammonia dan amida.
Sifat fisika amida, yaitu mudah membentuk ikatan hydrogen sehingga titik
didihnya tinggi dibandingkan senyawa lain dengan bobot molekul yang sama, namun
bila terdapat substituent
aktif pada atom hydrogen juga menurun.
Sifat fisika amina yaitu 1 dan 2 bersifat polar karena mampu membentuk ikatan
hydrogen dengan hydrogen air. Sifat kimia amina yaitu amina merupakan senyawa
basa dan berinteraksi dengan air secara analog dan dalam larutan berair, molekul air
mendominasi sebuah protein
terhadap molekul ammonia
yang menghasilkan pembentukan ion ammonium dan ion hidroksida..
Pada
percobaan uji karakteristik senyawa amida, pertama-tama disiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan. Perlakuan pertama adalah uji senyawa amida dengan
kelarutan air. Dimasukkan sebanyak 1 tetes asetamida ke dalam tabung reaksi dan
di tambahkan aquades sebanyak 5 mL. setelah ditambahkan asetamida yang berwarna
kuning berubah menjadi larutan yang bening. Dilakukan perlakuan yang sama pada
sampel urea, urea yang telah ditambahkan aquades berubah menjadi larutan bening
dan terdapat endapan. Hal ini disebabkan karena dalam strukturnya asetamida dan
urea mengandung nitrogen yang mempunyai sepasang elektron bebas dalam suatu
orbital nitrogen. Elektron bebas tersebut menyebabkan penyebaran
muatan-muatannya tidak merata dan memiliki momen dipol yang lebih besar dari
pada nol karena momen dipol yang lebih besar dari nol tersebut maka amida
digolongkan sebagai senyawa yang polar dan berdasarkan persamaan sifat
kepolaran dengan air sehingga keduanya dapat larut.
Perlakuan
hidrolisis dengan alkali digunakan sampel asetamida dengan urea dan sebagai
pereaksi adalah NaOH. Dimasukkan 1 tetes asetamida ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan NaOH 1 M sebanyak 10 mL terjadi perubahan warna dari larutan
asetamida yang berwarna kuning menjadi warna bening. Untuk perlakuan yang sama
pada urea sebanyak 1 gram terjadi perubahan warna dari larutan berwarna bening
menjadi warna kuning. Pada hidrolisis dengan basa kuat, asetamida dan
urea dengan penambahan
larutan NaOH, struktur
senyawa keduanya yang merupakan
suatu amida akan
berubah menjadi nitril,
yaitu senyawa yang mengandung gugus –C-N dan melepas gas NH3. Gas
NH3 ini bersifat basa, sehingga ketika
melewati kertas lakmus biru tidak mengalami perubahan warna.
Perlakuan untuk
hidrolisis dengan asam
digunakan asetamida dan
urea sebagai sampel dan H2SO4.
Dimasukkan 1 tetes asetamida ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan
H2SO4 pekat sebanyak 10 mL terjadi
perubahan warna dari larutan berwarna kuning menjadi bening. Dilakukan
perlakuan yang sama untuk urea sebanyak 1 gram dan terjadi perubahan warna dari
larutan bening menjadi larutan berwarna kuning. Struktur senyawa keduanya yang
merupakan suatu amida akan berubah menjadi nitril, yaitu senyawa yang
mengandung gugus –C-N dan terbentuk HSO4-. Pada uji ini uap yang dihasilkan
bersifat asam, sehingga ketika melewati kertas lakmus biru mengakibatkan
perubahan warna menjadi merah.
Sedangkan
untuk uji tes merah putih biru, seharusnya didapatkan hasil warna larutan merah
atau biru yang akan menunjukan bahwa adanya nitroalkana primer atau sekunder,
akan tetapi yang terbentuk berdasarkan percobaan tersebut adalah larutan
berwarna putih. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan pada larutan yang
diperiksa yaitu NaNO3. Jadi pada uji tes merah putih biru tidak didapatkan nitro
alkana primer maupun sekunder.
F.
KESIMPULAN DAN SARAN
·
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan
yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa :
1.
Identifikasi senyawa
organik dilakukan untuk
mengetahui senyawa-senyawa organik
tertentu berdasarkan perbedaan
gugus fungsi dengan mereaksikan terhadap pereaksi tertentu.
2.
Untuk
mengetahui sifat kimia dan fisika dari suatu senyawa organik, maka perlu dilakukan
uji karateristik kimia
dengan penambahan pereaski-pereaksi tertentu.
·
SARAN
Dalam melakukan
praktikum lebih hati hati karena bahan yang digunakan ada yang bersifat pekat
sehingga dapat membuat iritasi pada kulit. Selalu jaga kebersihan agar tidak
mempengaruhi pada hasil praktikum. Dan untuk kelompok yang praktikum video
praktikumnya lebih cepat di bagikan.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Akhmad,J.2006.
Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
·
Anwar,
C. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. UGM: Yogyakarta.
·
Fessenden,
R.J., Fessenden, J.S. 1997. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
·
Nasikin,
M., M, I. 2010. Sintesis Metil Amina Fasa Cair dari Amoniak dan Metanol. Jurnal Teknik Kimia.Vol.2. No.10.
·
Purnawan.
2010. Optimisa Proses Nitrasi pada Pembuatan Nitro Selulosa dari Serat Limbah
Industri Sagu. Jurnal Rekayasa Proses. Vol. 4. No. 2.
· Ramadhan, A,N., Kurniawan, S., Aini, Z. 2010. Sintesis Asetanilida dari Anilin dan Asam Asetat Glasial Menggunakan Metode Refluks. Jurnal Sains dan Teknologi. Vol. 8. No. 1.
· Riswayanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Komentar
Posting Komentar