LAPORAN MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI UJI KEPEKAAN BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA
LAPORAN
MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
“UJI
KEPEKAAN BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA”
DISUSUN:
NAMA : ZUZI NOPRIANNI
NPM :
F0I020097
KELAS : 1 A
DOSEN PENGAMPUH : SUCI RAHMAWATI, S.Farm,Apt,M.Farm
LABORATORIUM
MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
PRODI
D3 FARMASI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
BENGKULU
TAHUN
AKADEMIK 2020/2021
UJI KEPEKAAN BAKTERI TERHADAP
ANTIBIOTIKA
- TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu Untuk mengetahui Sensitivitas suatu
antibiotic terhadap suatu
bakteri tertentu
- LANDASAN
TEORI
Antibiotik maupun jenis-jenis
antimikroba lainnya telah umum dikenal dikalangan masyarakat kita. Penggunaan
dari antibiotik dan antimikroba inipun telah
meningkat, seiring dengan
bermunculannya berbagai jenis infeksi yang kemungkinan ditimbulkan
oleh jenis bakteri
baru ataupun virus
baru. Kenyataannya adalah bahwa penggunaanya dikalangan awam seringkali
disalah artikan atau disalah
gunakan, dalam artian
seringkali penatalaksanaan dalam menangani suatu
jenis infeksi yang
tidak tepat, yang
berupa pemakaian antibiotik dengan
dosis dan lama
terapi atau penggunaan
yang tidak tepat, karena
kurangnya pemahaman mengenai
antibiotik ini sendiri.
Hal ini pulalah yang
kemudian hari merupakan
penyebab utama dari
timbulnya resistensi dari obat-obat antibiotik
maupun antimikroba terhadap
jenis bakteri tertentu.
Obat-obat antimikroba efektif
dalam pengobatan infeksi
karena kemampuan obat tersebut
membunuh mikroorganisme yang
menginvasi penjamu tanpa
merusak sel.
Sensitifitas menyatakan
bahwa uji sentifitas
bakteri merupakan suatu metode
untuk menentukan tingkat
kerentanan bakteri terhadap
zat antibakteri dan untuk
mengetahui senyawa murni
yang memiliki aktivitas
antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan
mendapatkan produk alam
yang berpotensi sebagai
bahan anti bakteri
serta mempunyai kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan atau
mematikan bakteri pada konsentrasi
yang rendah. uji
sentivitas bakteri merupakansuatu metode untuk
menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat
antibakteri dan untuk mengetahui
senyawa murni yang
memiliki aktivitas antibakteri. Seorang ilmuan
dari perancis menyatakan
bahwa metode difusi
agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari
metode ini adalah
penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu
zona hambatan akan
terlihat sebagai daerah
jernih di sekitar cakram
kertas yang mengandung
zat antibakteri. Diameter
zona hambatan pertumbuhan bakteri
menunjukkan sensitivitas bakteri
terhadap zat antibakteri. Selanjutnya
dikatakan bahwa semakin
lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri
tersebut semakin sensitif (Gaman, dkk. 1992).
Pada umumnya metode yang
dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode
Difusi Agar yaitu
dengan cara mengamati
daya hambat pertumbuhan
mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram
(paper disk) yang
tidak ditumbuhi oleh
mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan
inilah yang menunjukkan
sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri(Jawelz, 1995).
Tujuan dari
proses uji sensisitivitas ini
adalah untuk mengetahui
obat-obat yang paling
cocok (paling poten)
untuk kuman penyebab
penyakit terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis dan untuk mengetahui adanya
resistensi terhadap berbagai
macam antibiotik. Penyebab
kuman resisten terhadap antibiotik
yakni memang kuman
tersebut resisten terhadap
antibiotik yang diberikan, akibat
pemberian dosis dibawah
dosis pengobatan dan
akibat penghentian obat sebelum
kuman tersebut betul-betul
terbunuh oleh antibiotic (Dwidjoseputro, 1998).
Antibiotik adalah
zat-zat kimia yang
dihasilkan oleh fungi
dan bakteri yang memiliki
khasiat mematikan atau
menghambat pertumbuhan kuman-kuman
sedangkan toksisitasnya bagi
manusia relatif kecil.
Para peneliti diseluruh dunia
memperoleh banyak zat
lain dengan khasiat
antibiotik namun berhubung dengan
adanya sifat toksis
bagi manusia, hanya
sebagian kecil saja yang
dapat digunakan sebagai
obat diantaranya adalah
streptomycin vial injeksi, Tetrasiklin
kapsul, Kanamicin kapsul,
Erytromicin kapsul, Colistintablet, Cefadroxil tablet dan
Rifampisin kapsul (Djide, 2003).
Kegiatan antibiotika
untuk pertama kalinya
ditemukan oleh sarjana Inggris dr.
Alexander Flemming pada
tahun 1928 (penisilin).
Penemuan ini baru dikembangkan dan
dipergunakan dalam
terapi di tahun
1941 oleh dr.Florey (Oxford)
yang kemudian banyak
zat lain dengan
khasiat antibiotik diisolir oleh
penyelidik-penyelidik di seluruh
dunia, akan tetapi
berhubung dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat (Djide,
2003).
Antibiotik digunakan
untuk membasmi mikroba
penyebab terjadinyainfeksi. Gejala
infeksi terjadi akibat
gangguan langsung oleh
mikroba dan berbagai zat toksik
yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh
sistem pertahanan tubuh,
namun adakalanya sistem
ini perlu ditunjang oleh
penggunaan antibiotik. Antibiotik
yang digunakan untuk membasni mikroba
penyebab infeksi pada
manusia, harus memiliki
sifat toksisitas selektif. Artinya antibiotik harus bersifat toksik
untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif
tergantung kepada struktur yang
dimiliki sel bakteri
dan manusia misalnya
dinding sel bakteri
yang tidak dimiliki oleh sel
manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada dinding sel
bakteri mempunyai toksisitas
selektif relatif tinggi
(Ganiswarna, 1995).
Sensitivitas bakteri
terhadap antibiotik tergantung
kapada kemampuan antibiotik
tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang
efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding
selnya lebih tinggi
dibandingkan bakteri Gram
negatif. Jadi suatu
antibiotik dikatakan mempunyai
spektrum sempit apabila
mampu menghambat
pertumbuhan bakteri Gram
positif, sedangkan antibiotik
berspektrum luas jika pertumbuhan bakteri
Gram positif dan
bakteri Gram negatif
dapat dihambat oleh antibiotik
tersebut (Sumadio, dkk. 1994).
Berdasarkan sasaran
tindakan antibiotik terhadap
mikroba maka antibiotik dapat
dikelompokkan menjadi lima
golongan yaitu antibiotik penghambat sintesis
dinding sel mikroba,
antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah
penisilin, sefalosporin, basitrasin,
dan vankomisin. Yang
kedua yaitu antibiotik penghambat
sintesis protein sel
mikroba, antibiotik yang
termasuk kelompok ini ialah
golongan aminoglikosida, makrolida,
kloramfenikol, linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik
penghambat sintesis asam nukleat
sel mikroba, antibiotik
yang termasuk kelompok
ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon.
Keempat yaitu antibiotik pengganggu
fungsi membran sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah
golongan polien. Dan yang kelima yaitu antibiotik penghambat metabolisme
mikroba, antibiotik yang termasuk
kelompok ini ialah
sulfonamida, trimetoprin dan
asam p-amino salisilat (Ganiswarna,
1995).
Zona Hambat
merupakan tempat dimana
bakteri terhamabat
pertumbuhannya akibat antibakteri
atau antimikroba. Zona
hambat adalah daerah untuk
menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik.
Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan
antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat
menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986).
- ALAT
DAN BAHAN
·
Alat :
1. Cawan Petri
2. Erlemeyer
3. Tabung Reaksi
4. Rak Tabung Reaksi
5. Gelas Ukur
6. Vortex Mixer
7. Pipet Tetes
8. Batang Ose
9. Lampu Spiritus
10. Inkubator
·
Bahan :
1. Antibiotik (Amoxicillin)
2. Nutrient Agar (NA)
3. Aquadest
4. Alkohol
- PROSEDUR
KERJA
1. Sterilkan alat terlebih dahulu dengan menggunakan
autoclave
2. Panaskan NA hingga mencair
3. Siapkan antibiotika yang akan digunakan, disini
menggunakan amoxicillin 1 gram, 1,5 gram dan 2 gram.
4. Gerus masing masing antibiotik
5. Masukkan antibiotik ke dalam tabung reaksi
6. Tambahkan aquadest sebanyak 10 ml lalu homogenkan
dengan menggunakan vortex mixer
7. Ambil satu sengkelit biakan bakteri masukkan ke
dalam nutrien broth
8. Celupkan kapas, usapkan ke dalam suspensi bakteri
dan oleskan pada permukaan agar secara merata
9. Masukkan kertas yang telah dipotong kecil ke dalam
masing masing tabung reaksi yang telah berisi aquadest dan antibiotik.
10. Kemudian letakkan didalam cawan petri, tandai masing
masing kertas dengan kontrol (-), 10%, 15% dan 20%
11. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam
12. Setelah selesai di inkubasi amati hasilnya apakah
terdapat zona bening atau tidak
- HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
|
NO. |
GAMBAR |
KETERANGAN |
|
1. |
10% |
Zona bening ketebalan
sampel 10 % adalah 1.7 cm |
|
2. |
15% |
Zona
bening ketebalan pada sampel 15% adalah 1,5 cm |
|
3. |
20% |
Zona bening ketebalan
pada sampel 20% adalah 1,5 cm |
B.
Pembahasan
Pada praktikum yang dilakukan kali ini dilakukan uji senstifitas
suatu antibiotik terhadap bakteri
tertentu. Pada praktikum
kali ini digunakan antibiotik yaitu amoxicillin. Pada praktikum
kali ini uji
sensitifitas antibiotic dilakukan
dengan metode Diffusi dengan
mengunakan cakram (disk).
Berdasarkan hasil
pengamatan yang dilakukan
setelah dilakukan inkubasi selama
24 jam terlihat
pada masing-masing petridisk
ada menunjukkan zona bening
(zona hambat). Pada
petridisk yang diberi amoxicillin 10% terlihat zona
hambatan paling besar
yaitu dengan diameter
zona hambat 1,7 cm yang dikategorikan bahwa masih
bersifat sensitive terhadap bakteri ini. Begitu
juga disk antibiotic
amoxicillin 15% dan amoxicillin 20% juga
masih bersifat sensitive terhadap
bakteri ini. Tetapi diameter yang terbentuk hanya 1,5 cm.
Jika antibiotika tidak terbentuk zona hambatan sama
sekali, hal ini
dapat disebabkan banyak
hal salah satunya yaitu disk antibiotik yang digunakan
telah rusak sehingga berkurang potensi antibiotiknya, sehingga
menjadi tidak bisa
menghambat pertumbuhan bakteri.
- KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Setiap antibiotik memiliki
sensitivitas yang berbeda-beda. Pada beberapa
antibiotic ada yang
memiliki zona hambat
yang kecil atau bahkan
tidak memiliki zona hambat
sama sekali. Hal
ini dapat disebabkan karena
beberapa hal yaitu
karena kemungkinan disk
yang digunakan telah rusak
akibat penyimpanan (ED)
sehingga potensi antibiotiknya
berkurang atau tidak ada sama sekali.
B.
Saran
Saran dari saya jika melakukan
praktikum harus menjaga kebersihan karena jika alat dan bahan yang digunakan
tidak bersih akan mempengaruhi pada saat praktikum dilaksanakan. Dan selalu cek
alat yang digunakan mengalami kerusakan atau tidak karena jika alat ada yang
rusak juga akan mempengaruhi hasil dari praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
·
Dwidjoseputro.
1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Malang:Djambatan.
·
Djide M,
Natsir. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
·
Fadhlan. 2010.
MikrobiologiFarmasi. Salemba medika. Jakarta.
·
Sumadio, H.
2004. Biokimia danFarmakologi Antibiotika, USU Press, Medan.
·
Suwandi, U.
2003. Perkembangan Antibiotik.
Cermin Dunia Kedokteran
No. 83. Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta.
·
Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam
Mikrobiologi. Malang. UMM Press.




Komentar
Posting Komentar